Rupiah Dibuka Melemah 0,18% ke Rp17.857/US$ di Tengah Harga Minyak yang Terus Naik

Rupiah Dibuka Melemah 0,18% ke Rp17.857/US$ di Tengah Harga Minyak yang Terus Naik
Rupiah dibuka melemah 0,18% ke level Rp17.857 per dolar AS di tengah kenaikan harga minyak yang bertahan di atas US$91 per barel.

DKI JAKARTA — Data Bloomberg Technoz mencatat, rupiah melemah tipis 0,03% di pasar offshore ke level Rp17.872 per dolar AS. Tekanan terhadap mata uang Garuda ini datang dari kenaikan harga minyak yang bertahan selama tiga hari beruntun, kini berada di level US$91,15 per barel.

Kenaikan harga komoditas energi tersebut dipicu oleh meredupnya prospek perdamaian antara Amerika Serikat (AS) dan Iran. Kedua negara masih berselisih dalam sejumlah isu, termasuk soal pengelolaan Selat Hormuz, jalur perairan paling vital bagi pasokan minyak dunia.

Faktor Eksternal Masih Mendominasi Pelemahan

Kondisi geopolitik Timur Tengah yang belum mereda membuat pelaku pasar cenderung memilih aset aman. Selain itu, Washington disebut tidak terlibat dalam negosiasi antara Iran dan Oman mengenai pengelolaan Selat Hormuz, yang menambah ketidakpastian di kawasan.

Di kawasan Asia, pergerakan mata uang terpantau beragam. Tekanan terbesar justru dialami oleh mata uang negara-negara yang menjadi importir energi, sementara eksportir komoditas terlihat lebih tahan.

Peta Kekuatan Mata Uang Asia

Dari sisi penguatan, ringgit Malaysia memimpin dengan apresiasi 0,28%. Disusul oleh won Korea Selatan, dolar Taiwan, dan dolar Hong Kong yang juga berada di zona hijau.

Sebaliknya, sejumlah mata uang Asia lainnya terpantau melemah. Peso Filipina, baht Thailand, yuan China, yuan offshore, dolar Singapura, dan yen Jepang kompak berada di bawah tekanan dolar AS pada pembukaan perdagangan hari ini.

Tekanan Harga Minyak dan Dampaknya ke Rupiah

Kenaikan harga minyak menjadi sentimen negatif ganda bagi rupiah. Selain memperbesar risiko inflasi impor, harga energi yang tinggi juga memperlebar defisit neraca dagang Indonesia sebagai negara net importir minyak.

Kondisi ini membuat investor asing cenderung menahan diri untuk masuk ke pasar keuangan domestik. Pelemahan rupiah yang terjadi pagi ini mengindikasikan bahwa sentimen risk-off masih menyelimuti perdagangan di kawasan.

Pelaku pasar akan mencermati perkembangan negosiasi Iran-AS serta data inflasi AS yang dijadwalkan rilis pekan ini untuk menentukan arah pergerakan rupiah selanjutnya. Level psikologis Rp17.900 per dolar AS akan menjadi resistance terdekat yang perlu diwaspadai.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index