Studi Terbaru: Gosip Tak Selalu Berdampak Buruk

Sabtu, 19 September 2026 | 00:26:01 WIB

SUKSESFINANSIAL.ID — Membicarakan orang lain sering dianggap kebiasaan buruk yang merusak hubungan sosial. Padahal, sejumlah penelitian menunjukkan gosip bisa berfungsi sebagai peringatan dini terhadap perilaku berpotensi merugikan. Yang membedakan sehat atau tidak adalah alasan dan cara informasi itu disebarkan.

Obrolan tentang seseorang yang tidak ada di ruangan sering dicap negatif. Namun riset dari University of Maryland dan Stanford University menemukan fungsi lain dari kebiasaan ini.

Membicarakan orang lain ternyata bisa membantu seseorang membaca situasi sosial. Informasi yang dibagikan juga berguna untuk mengenali perilaku yang berpotensi merugikan orang di sekitar.

Fungsi Sosial di Balik Gosip

Hasil penelitian kedua universitas tersebut menunjukkan gosip dapat membantu seseorang mengidentifikasi individu yang bersikap egois atau merugikan. Selama informasinya jujur, data semacam ini berguna sebelum memutuskan berinteraksi dengan orang tertentu.

Membahas perilaku seseorang tidak selalu bertujuan menjatuhkannya. Dalam banyak kasus, informasi itu berperan sebagai peringatan sosial bagi lingkaran pertemanan.

Contohnya, seorang perempuan bercerita kepada temannya soal pria yang tidak menghormati batasan pribadi saat berkencan. Cerita itu terdengar seperti gosip, tetapi bisa membuat temannya lebih waspada jika bertemu pria yang sama.

Batas antara Gosip Sehat dan Merusak

Pembeda utamanya terletak pada apa yang dilakukan terhadap informasi tersebut. Jika fakta dibagikan untuk memahami perilaku orang lain, meminta sudut pandang, atau memperingatkan teman, gosip masih punya fungsi positif.

Sebaliknya, gosip berubah menjadi perilaku merusak ketika informasi dibumbui, rahasia pribadi dibocorkan, atau cerita disebar agar seseorang dipermalukan dan dikucilkan.

Terapis Pernikahan dan Keluarga Berlisensi, Suzanne Koch Eckenrode, mengatakan gosip bisa menjadi komunikasi yang sehat ketika membantu seseorang memahami perilaku orang lain tanpa menjadikannya target sosial.

"Jadi, bukan sekadar apa yang dibicarakan, tetapi juga mengapa dan bagaimana kita membicarakannya," ujar Eckenrode seperti dikutip dari Vice.

Kapan Gosip Berubah Jadi Masalah

Gosip mulai tidak sehat ketika tujuannya bukan lagi memahami situasi, melainkan menjatuhkan atau memanipulasi orang lain. Eckenrode menyebut kebiasaan ini bisa merusak kepercayaan.

Risiko itu muncul saat seseorang menyebarkan informasi yang dilebih-lebihkan, membocorkan data pribadi tanpa izin, atau mengajak orang lain memihak dalam konflik. Menikmati momen seseorang dipermalukan akibat gosip juga memperburuk hubungan.

Orang yang gemar membicarakan urusan pribadi orang lain berpotensi membuat lawan bicaranya berpikir, "Kalau dia bisa cerita soal orang lain ke saya, jangan-jangan cerita saya juga dibagikan ke orang lain."

Kepercayaan yang rusak akibat kebiasaan ini tidak mudah kembali. Karena itu, penting menimbang alasan sebelum membagikan cerita tentang orang lain.

Terkini