SUKSESFINANSIAL.ID — Pemerintah menyiapkan kerangka Strategic Trade Management (STM) untuk memperkuat pengawasan perdagangan sekaligus menjaga kepercayaan mitra dagang global. Langkah ini diambil setelah sektor manufaktur menyumbang lebih dari 82% total ekspor Indonesia. Sepanjang Januari–Juli 2026, perdagangan nasional mencatat surplus US$3,7 miliar.
Menteri Perdagangan Budi Santoso menyatakan penyusunan kerangka STM nasional masih dalam tahap pembahasan lintas kementerian dan lembaga. Koordinasi itu menyelaraskan tiga kepentingan sekaligus: keamanan nasional, daya saing bisnis, dan kesiapan institusi.
Peta jalan penerapan STM tengah digodok Kementerian Perdagangan. Pemerintah memilih menerapkan sistem ini secara bertahap agar dunia usaha punya waktu membangun kesiapan sistem.
Mengapa STM Jadi Prioritas Sekarang
Perubahan struktur ekspor Indonesia membuat pengawasan perdagangan barang dan teknologi strategis makin mendesak. Manufaktur kini mendominasi ekspor nasional, jauh melampaui sektor primer.
Budi menilai STM berperan langsung dalam tiga program utama Kementerian Perdagangan: memperkuat pasar domestik, memperluas pasar ekspor, dan mendorong produk lokal menembus pasar global.
"Di dalam negeri, STM memperkuat sistem perdagangan kita dan memastikan bahwa barang dan teknologi kita dikendalikan dengan baik, menjadikan Indonesia sebagai mitra dagang yang aman dan bertanggung jawab," kata Budi dalam forum Indonesia's Strategic Trade Management Summit (IDSTM2026) di Jakarta, Rabu (16/9/2026).
Tiga Prioritas dalam Kerangka STM Nasional
Kementerian Perdagangan menetapkan tiga fokus utama saat menyusun kerangka STM. Pertama, memperjelas kewenangan antarlembaga agar tidak terjadi tumpang tindih pengawasan.
Kedua, membangun proses yang sederhana dan transparan supaya tidak membebani dunia usaha. Ketiga, mengintegrasikan STM dengan sistem perdagangan yang sudah berjalan.
Implementasi awal sudah dimulai pada sektor nuklir, dengan Badan Pengawas Tenaga Nuklir (BAPETEN) sebagai lembaga yang memimpin prosesnya.
Peluang bagi UMKM dan Mitra Dagang
Budi menyebut penerapan STM berkaitan erat dengan kepentingan dagang Indonesia di pasar internasional. Sistem ini diharapkan menambah kepercayaan mitra dagang sekaligus membuka akses bagi pelaku usaha Indonesia, termasuk usaha kecil dan menengah.
"Manajemen Perdagangan Strategis, atau STM, yang merupakan pendekatan nasional kita terhadap mitra ekspor, makin penting bagi Indonesia," ujarnya.
Surplus perdagangan US$3,7 miliar pada Januari–Juli 2026 menjadi modal pemerintah meyakinkan mitra dagang bahwa pengawasan ekspor berjalan bertanggung jawab. Kerangka STM yang komprehensif masih menunggu penyelesaian pembahasan antarlembaga.
Investasi mengandung risiko.