Inflasi Banyumas Raya 3,15% di Agustus 2026, Dipicu Harga Ayam dan Cabai

Kamis, 03 September 2026 | 04:09:01 WIB
Petugas menunjukkan harga kebutuhan pokok saat operasi pasar di Purwokerto, Banyumas, Jawa Tengah, Rabu (17/9/2026).

SUKSESFINANSIAL.ID — Bank Indonesia (BI) Purwokerto menegaskan komitmennya menjaga stabilitas harga di empat kabupaten, yakni Banyumas, Cilacap, Purbalingga, dan Banjarnegara. Tekanan harga terbaru datang dari permintaan musiman dan gangguan produksi di sisi hulu, terutama untuk komoditas pangan pokok.

Inflasi Purwokerto dan Cilacap Berbalik Naik

Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan inflasi bulanan (mtm) Purwokerto pada Agustus 2026 sebesar 0,39 persen. Realisasi itu berbalik dari posisi Juli 2026 yang mencatat deflasi 0,05 persen (mtm). Secara tahunan, inflasi Purwokerto naik dari 2,66 persen (yoy) menjadi 3,15 persen (yoy).

Pola serupa terjadi di Cilacap yang mengalami inflasi 0,50 persen (mtm), berbalik dari deflasi 0,06 persen pada bulan sebelumnya. Inflasi tahunan kota yang menjadi penghitungan Indeks Harga Konsumen (IHK) itu tercatat 3,08 persen (yoy), meningkat dari 2,44 persen pada Juli 2026.

Daging Ayam dan Cabai Jadi Penyumbang Utama

Kepala KPwBI Purwokerto, Aswin Gantina, menyebut kenaikan inflasi didorong oleh lonjakan harga daging ayam ras. Permintaan meningkat signifikan seiring momentum Hari Kemerdekaan Republik Indonesia dan perayaan Maulid Nabi Muhammad SAW.

Dari sisi produksi, biaya peternak ikut membengkak. "Kenaikan harga turut dipengaruhi meningkatnya biaya produksi peternak akibat kenaikan harga pakan dan day-old chick (DOC)," kata Aswin di Purwokerto, Rabu (17/9).

Selain daging ayam, tekanan inflasi juga berasal dari kelompok hortikultura. Beberapa komoditas yang harganya naik antara lain:

  • Cabai rawit
  • Buncis
  • Kacang panjang

Penurunan produksi di sejumlah daerah sentra menjadi pemicu utama kenaikan harga sayuran tersebut. Emas perhiasan turut menambah tekanan inflasi.

Sebaliknya, sejumlah komoditas lain justru mengalami penurunan harga. Bawang merah, bawang putih, bensin, dan telur ayam ras tercatat memberikan kontribusi penahan laju inflasi pada periode tersebut.

Strategi 4K Untuk Jaga Daya Beli

Menghadapi dinamika harga ini, BI Purwokerto bersama Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) Banyumas Raya mengintensifkan strategi 4K. Langkah ini mencakup empat pilar utama: keterjangkauan harga, ketersediaan pasokan, kelancaran distribusi, dan komunikasi efektif.

Selama Agustus 2026, TPID telah menjalankan Gerakan Pengendalian Inflasi dan Pangan Sejahtera (GPIPS). Kegiatan operasi pasar atau Gerakan Pangan Murah (GPM) digelar di sejumlah desa untuk memastikan masyarakat mendapatkan bahan pokok dengan harga terjangkau.

Selain operasi pasar, pengendalian dilakukan dari sisi hulu, termasuk pendampingan petani cabai dan penyelenggaraan toko tani mingguan. Langkah ini bertujuan memangkas jalur distribusi yang selama ini membuat harga di tingkat konsumen lebih tinggi.

Koordinasi Pedagang dan Ekspektasi Publik

TPID Banyumas Raya juga menggelar rapat koordinasi yang melibatkan pedagang besar, asosiasi, dan kelompok tani. Aswin menekankan pentingnya komunikasi efektif kepada publik untuk menjaga ekspektasi inflasi tetap rendah.

"Komunikasi efektif juga diperkuat melalui penyampaian informasi kepada media massa terkait upaya pengendalian inflasi di Banyumas Raya guna menjaga ekspektasi masyarakat," ujarnya.

Dengan penerapan strategi 4K yang konsisten, BI Purwokerto optimistis stabilitas harga di wilayah Banyumas Raya tetap terjaga. Targetnya, inflasi mampu bertahan dalam koridor sasaran nasional hingga akhir tahun meski masih ada risiko gejolak harga pangan dan energi.

Tags

Terkini